Nama : Deby Donansah
NIM : 07011381320054
MPK : Pengantar Ilmu Politik (B)
HUBUNGAN ILMU
POLITIK DENGAN ILMU-ILMU SOSIAL LAIN
Ilmu
politik merupakan salah satu dari kelompok besar ilmu sosial dan erat sekali
hubungannya dengan anggota-anggota kelompok lainnya, seperti sosiologi,
antropologi, ilmu hukum, ekonomi, psikologi sosial, dan ilmu bumi sosial. Semua
ilmu sosial mempunyai obyek penyelidikan yang sama, yaitu manusia sebagai
anggota kelompok (group). Karena
manusia tidak dapat hidup tersendiri, tetapi selalu hidup dalam suatu
komunitas. Sejak tahun 400 S.M. filsuf Yunani Aristoteles berkata bahwa manusia
merupakan zoon politikon (makhluk
sosial atau makhluk politik) dan bahwa manusia yang hidup tersendiri adalah
dewa atau binatang.
Perbedaan
antara pendapat satu dengan pendapat lainnya sebagai ilmu sosial, yaitu
sosiologi, psikologi sosial, antropologi budaya, hubungan internasional, ilmu
hukum, ilmu politik, ekonomi, statistik, kriminologi, demografi, dan ilmu
administrasi.
Sosiologi
Baik sosiologi maupun ilmu politik
mempelajari negara. Akan tetapi sosiologi menganggap negara sebagai salah satu
lembaga penendalian siosial. Sosiologi menggambarkan bahwa masyarakat yang
sederhana maupun yang kompleks senantiasa terdapat kecenderungan untuk timbul
proses, pengaturan, atau pola-pola pengendalian tertentu yang formal maupun
yang tidak formal. Selain itu, sosiologi juga melihat negara sebagai salah satu
asosiasi dalam masyarakat dan
memerhatikan bagaimana sifat dan kegiatan anggota asosiasi itu memengaruhi
sifat dan kegiatan negara. Jadi, ilmu politik dan sosiologi sama dalam
pandangannya bahwa negara dapat dianggap baik sebagai asosiasi maupun sebagai
sistem pengendalian. Hanya saja bagi ilmu politik negara merupakan subyek
penelitian pokok, sedangkan dalam sosiologi negara hanya merupakan salah satu
dari banyak asosiasi dan lembaga pengendalian dalam masyarakat.
Antropologi
Apabila jasa sosiologi terhadap
perkembangan ilmu politik adalah terutama dalam memberikan analisis terhadap
kehidupan sosial secara umum dan menyeluruh, maka antropologi menyumbang
pengertian dan teori tentang kedudukan serta peran berbagai satuan sosial-budaya
yang lebih kecil dan sederhana. Mula-mula antropologi lebih banyak memusatkan
perhatian pada masyarakat dan kebudayaan di desa-desadan di pedalaman,
sedangkan sosiologi lebih memusatkan perhatian pada kehidupan masyarakat kota
yang jauh lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi dan teknologi
modern. Lambat laun antropologi dan sosiologi saling memengaruhi baik dalam
obyek penelitian maupun pembinaan teori, sehingga pada saat ini batas antara
kedua ilmu sosial tadi telah menjadi kabur.
Ilmu
Ekonomi
Pada masa silam ilmu politik dan
ilmu ekonomi merupakan bidang ilmu tersendiri yang dikenal sebagai ekonomi
poliotik, yaitu pemikiran dan analisis kebijakan yang hendak digunakan untuk
memajukan kekuatan dan kesejahteraan negara Inggris dalam menghadapi
saingan-saingannya seperti Portugis, Spanyol, Prancis, dan Jerman, pada abad
ke-18 dan ke-19. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan pada umumnya, ilmu
tersebut kemudian memisahkan diri menjadi dua lapangan yang mengkhususkan
perhatian terhadap perilaku manusia yang berbeda-beda: ilmu politik dan ilmu
ekonomi. Ilmu ekonomi trermasuk ilmu sosial yang sering digunakan untuk
menyusun perhitungan-perhitungan ke depan. Ilmu ekonomi dikenal sebagai ilmu
sosial yang sangat planning-oriented;
pengaruhnya meluas pada ilmu politik seperti misalnya pengertian pembangunan
ekonomi yang telah memengaruhi pengertian pembangunan politik.
Psikologi
sosial
Psikologi sosial adalah pengkhususan
psikologi yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dan masyarakat,
khususnya faktor-faktor yang mendorong manusia untuk berperan dalam ikatan
kelompok atau golongan. Jika sosiolog mempelajari kegiatan kehidupan sosial,
bidang psikologi umumnya memusatkan paerhatian pada kehidupan perorangan.
Psikologi sosial mengamati kegiatan manusia dari segi ekstern (lingkungan
sosial, fisik, peristiwa-peristiwa, dan gerakan masa) maupun dari segi intern
(kesehatan fisik perorangan, semangat, dan emosi).
Geografi
Faktor-faktor yang berdasarkan
geografi, seperti perbatasan strategis, desakan penduduk, daerah pengaruh
memengaruhi politik. Dalam masa sebelum Perang Dunia II, suatu cabang geografi
mendapat perhatian besar, yaitu Geopolitik atau Geopolitics, yang biasanya dihubungkan dengan seorang Swedia
bernama Rudolf Kiellen (1864-1933). Ia menganggap bahwa di samping faktor
ekonomi dan antropologi, geografi memengaruhi karakter dan kehidupan nasional
dari rakyat dan karena itu mulak harus diperhitungkan dalam menyusun politik
luar negeri dan politik nasional.
Ilmu
Hukum
Terutama di negara-negara Benua
Eropa, ilmu hukum sejak dulu kala erat hubungannya dengan ilmu politik, karena
mengatur dan melaksanakan undang-undang merupakan salah satu kewajiban negara
yang penting. Cabang-cabang ilmu hukum yang khususnya meneropong negara ialah
hukun tata-negara dan ilmu negara. Fungsi negara ialah menyelenggarakan penertiban,
tetapi oleh ilmu hukum penertiban ini dipandang semata-mata sebagai tata hukum.
Ilmu hukum sifatnya normatif dan
selalu mencoba mencari unsur keadilan. Aliran ini kuat sekali dalam
kupasan-kupasan mengenai Negara Hukum, yang menekankan bahwa perasaan keadilan
merupakan basis dari seluruh sistem norma yang mendasari negara. Sistem hukum
adalah dasar legal dari negara; seluruh stuktur dan fungsi negara ditetapkan
oleh hukum.
Hans Kelsen menganggap negara
sebagai suatu badan hukum atau Rechtspersoon
(juristic person), seperti misalnya suatu Perseroan Terbatas (PT). Dalam
definisi Hans Kelsen suatu badan hukum adalah: “Sekelompok orang yang oleh
hukum diperlakukan sebagai suatu kesatuan, yaitu sebagai suatu pribadi (persoon) yang mempunyai hak dan kewajiban.
Perbedaan antara negara sebagai hukum dan badan-badan hukum lainnya ialah bahwa
badan hukum tertinggi yang mempunyai sifat mengatur dan menertibkan.
Filsafat
Ilmu pengetahuan lain yang erat sekali
hubungannya dengan ilmu politik ialah filsafat. Filsafat ialah usaha untuk
secara rasional dan sistematis mencari pemecahan atau jawaban atas
persoalan-persoalan yang menyangkut alam semesta (universe) dan kehidupan
manusia.
Gramsci mengatakan bahwa ‘filsafat yang
sejati bukan merupakan cabang kajian yang terisolasi, tetapi dalam dirinya
sendiri mengandung seluruh anasir fundamental yang dibutuhkan untuk
mengonstruksi konsepsi tentang dunia yang total dan integral dan segala hal
yang dibutuhkan untuk mewujudkan organisasi masyarakat politik yang integral
dalam kehidupan manusia’. (Gramsci, Selections from Prison Notebooks, 1933).
Oleh karenanya, politik Gramsci mengarahkan dia pada filsafat, dan filsafatnya
sepenuhnya bersifat politis. Dengan kata lain, Gramsci melihat filsafat sebagai
pendidikan politik, dan politik sebagai arena untuk menerapkan pengetahuan
filosofis.
Ilmu politik terutama sekali erat
hubungannya dengan filsafat politik, yaitu bagian dari filsafat yang menyangkut
kehidupan politik terutama mengenai sifat hakiki, asal mula dan nilai (value)
dari negara. Negara dan manusia didalamnya dianggap sebagai sebagian dari alam
semesta.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
kaitan antara ilmu politik dan ilmu pengetahuan sosial lainnya sangat erat dan
saling memengaruhi. Pendekatan ilmu sosial sangat berguna bagi analisa-analisa
politik, sepanjang ilmu sosial mampu menempatkan masalah-masalah politik dalam
konteks sosial yang lebih umum. Ilmu politik menjadi lebih berkembang dengan
adanya ilmu sosial lainnya.
Sejarah
Sejarah adalah deskriptif kronologis
peristiwa dari zaman silam. Sejarah merupakan penghimpunan kejadian- kejadian
konkret di masa lalu. Ilmu politik tak terbatas pada apa yang terdapat dalam
sejarah. Mengetahui sejarah politik suatu Negara belum memberikan gambaran yang
tepat tentang keadaan politik negera itu di masa lampau dan masa yang akan
datang. Sejarah hanya mencatat apa yang pernah terjadi, sedang ilmu politik
disamping menyelidiki apa yang pernah terjadi, juga apa yang kini sedang
berlangsung dan mengadakan ramalan hari depan suatu masyarakat, ditinjau dari
segi politik.
Politik membutuhkan sejarah dan hampir
semua peristiwa historis adalah peristiwa politik. Ilmu politik memperkaya
materinya dengan peristiwa sejarah, mengadakan perbandigan dari buku-buku sejarah.
Sejarah merupakan gudang data bagi ilmu politik. Sejarah adalah riwayat hidup
ummat manusia, Sejarah merupakan ilmu yang mempelajari peradaban manusia.
Melalui pelajaran ini segala ide- ide, kesuksesan dan peradaban manusia
dikupas. Disini pula kita mengetahui kejadian- kejadian dahulu, gerak- gerik
dan penyebab dimana memiliki timbal- baliknya pula.
Disejarah juga terdapat pembahasan
perkembangan ekonomi, sosial, agama, para cendekiawan, pergerakan artistik,
perkembangannya dan juga membahas pertumbuhan dan kemunduran negara, organisasi
dan sebab kegagalan mereka. Ilmu sejarah sangat dekat hubungannya dengan Ilmu
politik: Professor Seely mengatakan: Sejarah tampa ilmu politik laksana pohon
tampa buah, sedangkan ilmu politik tampa sejarah bagaikan pohon tampa akar,
dapat disimpulkan keduanya sangat berhubungan dekat. Freeman mengemukakan
histori atau sejarah adalah politik masa dahulu, sedangkan politik adalah
sejarah dimasa kini.
Beberapa
fakta sejarah seperti yang dikatakan oleh Appadorai bahwa terdapat bagian dasar
dari ilmu politik, dimana fakta- fakta sejarah memberikan kita materi mentah
dari ilmu politik. Maka bagaimanakah kita mengolah mentah tersebut sehingga
bermanfaat bagi kita.
Point- point
diatas menberikan kita informasi tentang asal- usul barang- barang berharga
dari ilmu sejarah, kemajuan dan kemunduran negara disertai segala problema yang
terjadi dalam prinsip bernegara. Studi banding dari institusi dan politik yang
baik pada masa lalu membantu kita untuk memahami permasalahan dimasa kini.
Tiap- tiap masyarakat sudah pasti menghadapi suatu permasalahan, baik secara
langsung dimana berakar dimasa dahulu kala, contohnya: kita memiliki warisan
dari nenek moyang kita seperti: kastaisme, perkauman, dan sifat kedaerahan.
Mempelajari ilmu sejarah dengan sendirinya akan membawa wawasan kita bahkan
menolong kita dalam menyelesaikan fakta dasar dari permasalahan yang ada.
Ilmu politik
akan samar bila tidak disertai dengan sejarah, dimana sejarah juga akan
terlihat pincang bila tidak diiringi dengan ilmu politik. Kedua ilmu tersebut
memiliki suatu keterkaitan yang tidak mungkin dipisahkan. Lebih jelasnya setiap
sejarah pasti diiringi dengan sang hero atau nama- nama pemikir terdahulu,
dimana ilmu politik mengupas segala bidang perkembangan suatu negara, dimana
hal ini dikategorikan sebagai sejarah.
Seperti
diterangkan di atas, sejak dahulu kala ilmu politik erat hubuganya dengan
sejarah dan filsafat. Sejarah merupakan alat yang paling penting bagi ilmu
politik, oleh karena menyumbang bahan, yaitu data dan fakta dari masa lampau,
untuk diolah lebih lanjut.
Etika
Etika adalah ilmu ketertiban dimana
pokok masalah moralitas dipelajari. Singkatnya ilmu tatasusila adalah ilmu
moralitas. Didalam ilmu ini tertetapkan hukum- hukum moralitas dan menentukan
kebiasaan tingkah laku. Ilmu tatasusila juga memaksimalkan setiap tingkah laku
manusia baik secara benar atau berhaluan kiri.
Hubungan antara ilmu politik dan Etika
adalah nyata atau fact atau jelas. Tidak ada pembahasan dalam ilmu politik
pokok persoalan apakah ini benar atau sebaliknya, maka tatasusilalah yang akan
memberi jawaban setiap sasaran ataupun tujuan ilmu politik itu sendiri.
Para philosophy politik di abad kuno
dan abad pertengahan menyatakan tidak ada perbedaan diantara ilmu politik dan tatasusila,
bagi mereka ketertiban keduanya saling berhubungan.
Menurut Plato dan Aristotle negara
lahir hanya untuk menghasilkan atau melangkah kepada arah yang lebih baik,
sedangkan untuk meraih kebaikan tersebut dibutuhkan iringan nilai moral yang
tinggi.
Di lain pihak Mahatma Gandhi Bapak
bangsanya India menekankan kedekatan hubungan ilmu politik dan etika, dia
mengatakan: politik yang kehilangan agama adalah sebuah perangkap kematian,
karena mereka telah membinasakan jiwa. Agama disini diartikan sebagai
tatasusila atau moral yang tinggi. Maka jika para philosophy dahulu menyamakan
politik dan etika namun sekarang ide tersebut telah berubah, buktinya banyak
para pejabat kita yang tidak mempunyai moral seperti apa yang digambarkan oleh
philosophy-philosophy terdahulu.
Jadi, etika adalah pengetahuan tentang
hal-hal yang baik dan buruk, tentang keharusan dan hal-hal yang wajib
dibiarkan. Hubungan ilmu politik dan etika dilukiskan sebagai suatu hubungan
yang membatasi ilmu politik, terutama praktek politik. Etika mengatakan apa
yang harus dilakukan, tetapi disamping itu juga menetapkan batas-batas dari apa
yang wajib dibiarkan. Etika memberikan dasar moral kepada politik. Apabila
menhilangkan moral dari politik, maka akan kita dapatkan politik yang berisfat “Machiavelistis”
yaitu politk sebagai alat untuk melakukan segala sesuatu, baik atau buruk tanpa
mengindahkan kesusilaan. Hanya dengan jalan menjadikan kesusilaan sebagai dasar
politik, dapat diharapkan akan adanya politik yang mengindahkan aturan-aturan permainan,
apa yang harus dilakukan dan apa yang wajib dibiarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar